Novel judul Hujan di Atas Seragam - episode 1
Hujan sore itu datang tanpa aba-aba. Langit yang tadi cerah mendadak kelabu, dan suara gemuruh kecil terdengar dari arah barat. Satu per satu siswa berlarian keluar gerbang sambil menutupi kepala dengan tas. Bel sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, tapi Hana masih duduk di ruang OSIS, menatap layar ponselnya yang tak kunjung berbunyi.
Pesan terakhir yang ia kirim pagi tadi masih berstatus delivered — belum dibaca.
"Jangan lupa rapat lomba nanti, jam dua."
Pesan sederhana, tapi sejak saat itu, pikirannya tak tenang.
Ia menatap papan tulis kecil yang penuh coretan ide lomba 17 Agustus: dekorasi kelas, lomba kebersihan, dan drama musikal. Semuanya menunggu persetujuan Arga — ketua kelas yang setengahnya perfeksionis, setengahnya misterius, dan sepenuhnya sulit ditebak.
Hana menarik napas panjang lalu menatap jendela. Hujan menetes lembut di kaca, membentuk aliran kecil yang menurun pelan. Tangannya refleks menulis di kertas: “Menyukai seseorang tanpa tahu alasannya adalah keberanian paling bodoh yang bisa dimiliki.”
Ia tersenyum kecil — pahit tapi jujur.
Suara langkah kaki terdengar di koridor. Bukan langkah terburu-buru, tapi mantap dan tenang. Ia tahu suara itu bahkan tanpa perlu menoleh.
“Han, kau masih di sini?”
Suara Arga memang seperti itu — tidak keras, tapi punya cara tertentu membuat detak jantung jadi dua kali lebih cepat dari seharusnya.
Hana menoleh, setengah terkejut, setengah lega. Arga berdiri di pintu, jas hujannya basah kuyup, dan sebotol cokelat panas dari kantin tergenggam di tangan kirinya. Tetes air masih menetes dari ujung rambutnya.
“Cokelat favoritmu,” katanya pelan sambil menaruh botol di meja.
Hana mengerjap. “Kau ke kantin di saat hujan begini?”
“Tidak semua orang suka menunggu keberanian datang, kadang harus dicari,” jawab Arga tenang.
Hana tertawa kecil, menganggap itu lelucon, tapi mata Arga serius. Sesaat mereka hanya diam, mendengar hujan memantul di atap seng.
“Kenapa kau belum pulang?” tanya Arga, duduk di kursi seberang.
Hana memutar bolpoin di jarinya. “Aku menunggu hasil keputusan lomba. Kau belum sempat jawab pesanku.”
Arga melirik layar ponselnya. “Ponselku rusak sejak pagi. Aku baru saja menyalakannya lagi. Maaf.”
Jawaban sederhana, tapi cukup untuk membuat Hana malu dengan semua prasangka yang ia buat sendiri.
“Jadi, kita tetap dengan ide drama musikal?” tanya Hana mencoba menetralkan suasana.
Arga berpikir sebentar. “Ya, tapi ada satu hal…”
Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju papan tulis. Dengan spidol, ia menulis:
‘Tema: Keberanian untuk Mengatakan.’
Hana menatap tulisan itu lama, dadanya terasa aneh — antara berbunga dan berdebar.
“Itu punya dua makna,” kata Arga. “Bisa tentang seseorang yang berani mengekspresikan pendapatnya... atau tentang seseorang yang akhirnya jujur pada perasaannya.”
Ia menoleh, menatap Hana dalam-dalam. “Kau pilih yang mana?”
Hana terdiam, menunduk. Ia tahu apa yang ingin dikatakannya, tapi lidahnya seolah menolak bekerja. Hujan di luar seakan mendengarkan percakapan mereka, meleburkan setiap kata yang belum sempat lahir.
Akhirnya, Hana mengangkat kepala, menatap Arga yang masih menunggunya dengan sabar.
“Aku pikir... yang kedua,” katanya pelan. “Karena kadang, jujur itu lebih berat dari ujian matematika.”
Mereka berdua tertawa kecil — dan untuk pertama kalinya sore itu, keheningan terasa hangat.
Di luar sana, hujan belum berhenti. Tapi di dalam ruang OSIS yang lembap dan bau spidol itu, dua hati baru saja menemukan keberaniannya masing-masing.
Komentar
Posting Komentar