Cahaya di Ujung Jembatan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi hutan dan sungai, hiduplah seorang remaja bernama Lintang. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia harus menyeberangi jembatan kayu tua yang menghubungkan desanya dengan sekolah di seberang sungai. Jembatan itu sempit, papan-papannya sudah lapuk, dan banyak orang takut menyeberang ketika air sungai naik.
Namun bagi Lintang, jembatan itu bukan penghalang — melainkan pengingat bahwa setiap langkah menuju ilmu adalah perjuangan. Suatu hari, saat ia berjalan di tengah jembatan, hujan deras turun tiba-tiba. Air sungai naik cepat dan angin kencang membuat jembatan bergoyang. Lintang berhenti sejenak, menggenggam tasnya erat-erat, dan berkata dalam hati: “Kalau aku berhenti di sini, aku tidak akan pernah tahu apa yang menantiku di seberang.”
Ia melangkah perlahan, satu papan demi satu papan, hingga akhirnya tiba dengan pakaian basah kuyup tapi hati penuh semangat. Setibanya di sekolah, gurunya memuji keberaniannya, dan teman-temannya kagum pada tekadnya.
Bertahun-tahun kemudian, jembatan itu sudah diganti dengan jembatan beton yang kokoh. Namun setiap kali Lintang lewat, kini sebagai guru yang mengajar di sekolah yang sama, ia selalu tersenyum. Ia tahu — perjalanan hidup pun seperti jembatan itu: mungkin rapuh dan menakutkan, tapi hanya yang berani melangkah yang bisa melihat cahaya di ujungnya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar