Novel judul Hujan di Atas Seragam - episode 1

  Hujan sore itu datang tanpa aba-aba. Langit yang tadi cerah mendadak kelabu, dan suara gemuruh kecil terdengar dari arah barat. Satu per satu siswa berlarian keluar gerbang sambil menutupi kepala dengan tas. Bel sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, tapi Hana masih duduk di ruang OSIS, menatap layar ponselnya yang tak kunjung berbunyi. Pesan terakhir yang ia kirim pagi tadi masih berstatus  delivered  — belum dibaca. "Jangan lupa rapat lomba nanti, jam dua." Pesan sederhana, tapi sejak saat itu, pikirannya tak tenang. Ia menatap papan tulis kecil yang penuh coretan ide lomba 17 Agustus: dekorasi kelas, lomba kebersihan, dan drama musikal. Semuanya menunggu persetujuan Arga — ketua kelas yang setengahnya perfeksionis, setengahnya misterius, dan sepenuhnya sulit ditebak. Hana menarik napas panjang lalu menatap jendela. Hujan menetes lembut di kaca, membentuk aliran kecil yang menurun pelan. Tangannya refleks menulis di kertas:  “Menyukai seseorang tanpa ...

Cahaya di Ujung Jembatan

 Di sebuah kota kecil yang dikelilingi hutan dan sungai, hiduplah seorang remaja bernama Lintang. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia harus menyeberangi jembatan kayu tua yang menghubungkan desanya dengan sekolah di seberang sungai. Jembatan itu sempit, papan-papannya sudah lapuk, dan banyak orang takut menyeberang ketika air sungai naik.

Namun bagi Lintang, jembatan itu bukan penghalang — melainkan pengingat bahwa setiap langkah menuju ilmu adalah perjuangan. Suatu hari, saat ia berjalan di tengah jembatan, hujan deras turun tiba-tiba. Air sungai naik cepat dan angin kencang membuat jembatan bergoyang. Lintang berhenti sejenak, menggenggam tasnya erat-erat, dan berkata dalam hati: “Kalau aku berhenti di sini, aku tidak akan pernah tahu apa yang menantiku di seberang.”

Ia melangkah perlahan, satu papan demi satu papan, hingga akhirnya tiba dengan pakaian basah kuyup tapi hati penuh semangat. Setibanya di sekolah, gurunya memuji keberaniannya, dan teman-temannya kagum pada tekadnya.

Bertahun-tahun kemudian, jembatan itu sudah diganti dengan jembatan beton yang kokoh. Namun setiap kali Lintang lewat, kini sebagai guru yang mengajar di sekolah yang sama, ia selalu tersenyum. Ia tahu — perjalanan hidup pun seperti jembatan itu: mungkin rapuh dan menakutkan, tapi hanya yang berani melangkah yang bisa melihat cahaya di ujungnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SMP Negeri 1 Jaro Gelar Olimpiade Sains Nasional: Ajang Mengasah Prestasi dan Potensi Siswa

SMP Negeri 1 Jaro Raih Juara Pertama Lomba Sekolah Sehat UKS Tingkat Tabalong 2025

Selamat Ulang Tahun Drs. H. Kasran, Kepala SMPN 1 Jaro yang Visioner dan Penuh Inspirasi